Pelaku UMKM di Serang Ini Terapkan Strategi Baru

  Senin, 06 Juli 2020   Adi Ginanjar Maulana
Pengepakan kue kering yang siap dipasarkan. [Suara.com/Sofyan]

SERANG, AYOBANTEN.COM--Pandemi Covid-19 ternyata berdampak luar biasa bagi pelaku usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) di Kota Serang, seperti yang dirasakan pengusaha makanan ringan yang memasarkan hasil produksinya di lingkungan sekolah. Apalagi, pemerintah memberlakukan kebijakan belajar dari rumah.

Hal itu seperti dirasakan pemilik UMKM pembuatan kue kering di Kampung Manggareng, Kelurahan Mesjid Priyayi, Kecamatan Kasemen, Yulianti. Sejak Pandemi Covid-19, Yulianti mengakui penjualan kue kering hasil usahanya, seperti kue satu dan kue gipang menurun drastis.

"Iya pas PSBB diberlakukan itu, kita yang biasanya kirim ke Tangerang sempat terhenti. Sekitar sebulan lebih. Jadinya, jualan di sekitar-sekitar sini aja," ucapnya saat ditemui di kediamannya, Jumat (3/7/2020).

Padahal, usaha pembuatan kue kering milik keluarga yang sudah dirintis sejak 20 tahun silam itu mampu meraup keuntungan hingga Rp 40 juta per bulan sebelum Pandemi Covid-19.

"Per bulan sih sampai Rp 40 juta, tapi laba kotor itu ya. Sekarang lumayan turun, gara-gara Covid ini," ungkapnya.

Bukan hanya laba yang turun, Yulianti pun terpaksa merumahkan 15 karyawan yang bekerja di pabriknya karena usahanya tersebut sempat terhenti produksi.

Yuli menjelaskan, dalam sehari produksi kue keringnya menghasilkan 50 dus kue satu dan 50 dus kue gipang. Untuk harga setiap bungkus kue satu dan kue gipang yang dijajakan dibandrol dengan harga Rp 3.500.
"Per pax kita jual Rp 3.500. Sehari bisa menghasilkan 50 dus masing-masing kue. Dalam satu dus itu, untuk kue satu isinya 20 bungkus, untuk kue gipang itu 40 bungkus," tuturnya.

Lantaran itu, pada masa transisi New Normal seperti saat ini, Yuli berharap, perekonomian para pelaku UMKM seperti dirinya bisa kembali pulih seperti sedia kala.

"Iya kalau sekarang-sekarang ini, sudah nggak terlalu berpengaruh banget, mulai agak membaik. Udah mulai produksi juga," ujarnya.

Untuk mengejar pangsa pasar lebih luas lagi di masa transisi New Normal, Yuli akan memasarkan kuenya dalam situs khusus sebagai media promosi. Namun karena pemanfaatannya masih belum maksimal, ia pun meminta agar pemerintah turut serta membantu memberikan pembinaan agar penjualan panganan tradisional di Kota Serang bisa merambah hingga ke luar negeri.

"Sekarang sih udah bikin website, walaupun pemanfaatan promosi digital masih belum maksimal. Pengennya sih kita bisa eksport juga. Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu," katanya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar