Langkah Awal Perdamaian, Afghanistan Bebaskan 1.500 Tahanan Taliban

  Rabu, 11 Maret 2020   Rizma Riyandi
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. (Mohammad Ismail/Reuters)

KABUL, AYOBANDUNG.COM -- Presiden Afghanistan Ashraf Gani menandatangani dekrit untuk membebaskan sekitar 1.500 tahanan Taliban. Sebagai gantinya, Taliban akan menyerahkan 1.000 pasukan pemerintah. Hal tersebut merupakan langkah perdamaian untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung selama 18 tahun antara pemerintah Afghanistan dengan kelompok Taliban.

Berdasarkan Salinan dua halaman dekrit yang dilansir Al-Jazeera, pada Selasa (10/3/2020), para tahanan yang dibebaskan harus memberikan jaminan tertulis untuk tidak kembali ke medan perang. Menurut keputusan tersebut, proses pembebasan akan dilaksanakan dalam empat hari.

Hal ini dibenarkan juru bicara Presiden, Sediq Sediqqi. "Presiden Ghani telah menandatangani dekrit yang akan memfasilitasi pembebasan para tahanan Taliban sesuai dengan kerangka kerja yang diterima untuk dimulainya negosiasi antara Taliban dan pemerintah Afghanistan," ungkap Seddiq melalui Twitter pribadinya.

Sebagaimana dilansir BBC, Amerika Serikat dan NATO juga telah menjalin kesepakatan dengan Taliban.  Di bawah kesepakatan bersejarah yang didukung oleh Dewan Keamanan PBB tersebut, AS setuju untuk mengurangi pasukannya di Afghanistan, dari sekitar 12.000 menjadi 8.600 dalam 135 hari.

Sebenarnya, penarikan pasukan oleh AS rencananya akan dimulai pada Senin (9/3/2020). Namun, penarikan tersebut tertunda ketika AS melancarkan serangan udara sebagai tanggapan atas penyerangan Taliban terhadap pasukan Afghanistan di provinsi Helmand.

Selain itu, AS juga diharuskan membebaskan sekitar 5000 tahanan Taliban.  Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen mengatakan bahwa pihaknya telah menyerahkan daftar nama 5000 orang tahanan kepada AS pada Selasa (10/3/2020). Kini, pihaknya sedang menunggu semuanya dibebaskan.

Di sisi lain, Seorang pemimpin senior Taliban di Doha, Qatar yang tidak disebutkan namanya  mengatakan bahwa pihaknya telah mengirim kendaraan ke penjara Bagram, utara ibu kota Kabul, Afghanistan untuk menjemput para tahanan.

"Setelah pembicaraan kami dengan Zalmay Khalilzad (utusan khusus AS untuk Afghanistan) pada Senin (9/3/2020), dimana dia menyampaikan kepada kami tentang pembebasan 5.000 tahanan kami, kami mengirim kendaraan untuk menjemput mereka (tahanan)," katanya.

Hingga kini, Afghanistan masih selalu dilanda konflik. Selain, perang tak berujung dengan kelompok ekstrimis, Taliban, Presiden Ghani masih dipusingkan oleh masalah sengketa politik dengan oposisi Abdullah Abdullah.

Pada Senin, (9/3/2020), upacara pelantikan Presiden Ghani diteror oleh serangan roket. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menentang adanya dualisme pemerintahan sebagai bentuk dukungan terhadap Presiden Ghani.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar